KRING!!!! Bunyi bel masuk sekolah.
"Makasih mamah, entar pulangnya jangan lupa jemput lagi ya." Ucap wanita cantik dengan rambut lurus sebahu, wajah-nya putih, tinggi-nya kurang lebih 155cm dan berumur 16 tahun. Berbicara dengan Mamah-nya di depan gerbang sekolah SMA. Mamah-nya menjawab hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Fiolla, itu Mamah lo?" Tanya Kara kepada wanita kecil tadi yang bernama Fiolla, setelah berada di kelas.
"Iya ra, memang kenapa, ada yang aneh?" Jawab Fiolla sambil tersenyum kecil.
"Iya lah aneh banget, ada angin apa ko tumben di anter Mamah lo?" Kara yang merasa heran.
"Iyaa hehehe, sejak tadi malem Mamah gue bilang kalau mulai hari ini dia bakal antar-jemput gue ke sekolah setiap hari." Ujar Fiolla sambil meneruskan senyum-nya itu.
"Hah? Serius? Ko tumben, jadi deket nih sama Mamah lo?" Kara kembali menanyakan ke pada Fiolla.
"Itu juga tiba tiba tadi malem mamah gue bilang bakal anter jemput gua ke sekolah setiap hari." Fiolla yang menjawab kini dengan serius.
Kara hanya diam dan heran.
Setelah ditinggal Ayahnya 2 tahun lalu Fiolla kini hanya tinggal berdua dengan Mamah-nya, Ritna.
Sebenernya Mamah Fiolla tidak bekerja, jadi kepada Fatma, kakak Ritna. Dia dapat memberi kebutuhan hidup Fiolla dan Mamah-nya, seperti biaya sekolah Fiolla, untuk makan dan lain-lain. Untuk itu Mamah Fiolla berfikir untuk segera bekerja agar tidak menggantungkan hidupnya kepada Fatma.
Oiya ada Farid kakak kandung Fiolla yang berbeda umurnya 4 tahun lebih tua, namun Farid memilih tinggal bersama Ayah-nya dan sampai sekarang seperti Ayah-nya tidak ada kabar apapun setelah 2 tahun lalu meninggalkan rumah.
KRINGGG!!! Bel pulang pun berbunyi.
Ritna terlihat sudah menunggu di depan gerbang sekolah menggunakan motor, menunggu Fiolla.
"Ayo mah, kita pulang." Ucap Fiolla dengan wajah gembira.
Tanpa banyak bicara Ritna langsung menyalakan motor dan segera pulang.
Setelah sampai di rumah Mamah Fiolla berbicara kepada Fiolla yang tampaknya amat begitu serius.
"Fio, mulai Minggu depan mamah mau kerja di luar kota." Ucapnya dengan penuh keseriusan.
"Hah! Apa! Serius mah? Kenapa ga kerja yang deket aja mah?? Tiba-tiba Fiolla panik akibat ucapannya mamah-nya tadi.
"Sudah Fio, tapi Mamah ga dapet." Wajah Ritna semakin serius memandang mata indah Fiolla.
Fiolla hanya menarik nafas panjangnya
"Nanti kamu tinggal sama Tante Fatma yah selama Mamaf kerja, karena kamu gamungkin tinggal dirumah ini sendirian. Mamah pulang ko seminggu sekali." Lalu Ritna melanjutkan omongan-nya.
Fiolla hanya diam dan kemudian memberikan senyuman seakan-akan itu senyuman paksaan kepada Mamah-nya.
"Aku kangen Papah mah." Zap! Kata-kata yang tiba-tiba datang dari mulut Fiolla di hadapan muka Mamah-nya.
"Kamu ngomong apa? Ngapain di kangenin, dia ga akan kumpul kita lagi. Lupakan saja." Ujar Ritna yang nada suaranya menaik.
Lalu Fiolla diam dan hanya menarik nafas panjang lalu seketika dia meneteskan air mata yang membasahi pipi-nya. Tapi Ritna sudah membalikan badan dan pergi ke kamar-nya. Tidak sempat melihat Fiolla yang sedang menangis.
Keesokan harinya..
Tepatnya hari Minggu saat itu Ritna sudah siap dengan koper besar ditangannya, pagi-pagi sekali pukul 04:30 saat itu Fiolla belum bangun, jadi Ritna sengaja membuka jendela kamar Fiolla yang tepat berada di sebelah kiri kamar Fiolla, 5 menit berselang Fiolla belum juga bangun, akhirnya Ritna harus membangunkannya.
"Fio ayo bangun, Mamah mau berangkat." Ritna yang mencoba membangunkan Fiolla.
Setelah beberapa menit Ritna membangunkan-nya akhirnya Fiolla bangun, dan segera menuju kamar mandi.
"Ayoo cepet Mamah mau berangkat nih." Ucap Ritna.
"Iyah mah, aku nguncir rambut dulu." Fiolla yang telah selesai mandi, melakukan kebiasaanya dia selalu menguncir rambut-nya di kamarnya.
Wajah Fiolla tiba-tiba sedih, setelah melihat Mamah-nya berpakaian rapih, tidak pernah rasanya Fiolla, melihat Mamah-nya berangkat tanpa didampinginya.
Ritna berangkat diantar menggunakan mobil Fatma jadi setelah mengantar Ritna, Fatma segera mengantar Fiolla kerumah-nya, untuk tinggal bersamanya.
"Tante Fatma mau anter Mamah kemana?" Fiolla bertanya di dalam mobil kepada wanita cantik berumur kurang lebih 32 tahun, rambut sebahu yang sedang menyetir mobil.
"Sampai stasiun doang ko, tadinya mau tante anter langsung tujuan, tapi Mamah kamu..." Belum selesai Fatma bicara..
"Ah udah lahh." Ucap Ritna memotong pembicaraan ade-nya tadi.
Fiolla pun berfikir Ternyata Tante Fatma baik banget, dan keliatan-nya kaya. Kayak-nya bakal seru juga nih tinggal bareng Tante Fatma.
Setelah sampai stasiun..
"Fio kamu jaga diri yah, nanti insaallah bulan depan mamah pulang kok." Ucap Ritna ke Fiolla seraya akan berpisah.
"Iyaah mah, mamah juga yah, hati-hati." Jawab Fiolla yang ingin meneteskan air mata, tapi dia tau ini di stasiun banyak orang, apalagi ada Tante Fatma disitu.
* * *
"Ini Fio kamar kamu, sama kamu tinggal di bersihin sedikit. Dulu-nya ini kamar tamu tapi sekarang ini jadi kamar kamu ya." Ucap Fatma di dalam kamar baru Fiolla.
"Wahhh, makasih tante Fatma, nanti aku beresin yah.." Fiolla dengan wajah tercengang.
"Sama-sama, semoga kamu betah ya.." Ucap Fatma dan lalu pergi meninggalkan kamar.
Wajah Fiolla masih tercengang, bagaimana tidak kamar itu besar banget, hampir dua kali lipat lebih besar dibanding kamar Fiolla yang dulu.
Tante Fatma tinggal bertiga bersama suami dan anak-nya. Suami-nya, Haris. Seorang pengusaha Meubel di luar kota, ada puluhan cabang yang dimiliki-nya. Tapi Haris jarang sekali ada di rumah.
Sementara anak laki-laki Fatma, Yekta. Dia berbeda 1 tahun lebih muda dibanding Fiolla.
"Mamaaa!!!! itu yang nama-nya Fiolla?" Yekta memanggil Fatma dan menanyakan tentang Fiolla.
"Iya sayang, sekarang dia tinggal disini." Jawab Fatma sembari tersenyum.
"Hahhhh... Serumah sama cewek cantik." Kata Yekta berbicara pelan.
Fatma hanya terseyum dan lalu ke dapur mempersiapkan makan malam.
"Hai Fiolla, selamat datang dirumahku ya semoga kamu betah dan bahagia.." Yekta berbicara seusai makan malam di meja makan sambil senyum lebar-nya.
"Iya Yekta, makasih ya." Jawab Fiolla dengan senyum kecil-nya.
Dari sejak itu Fiolla sangat dekat dengan Yekta, apalagi sekolahan dia bersamaan, hanya berbeda Fiolla kelas 11 sedangkan Yekta kelas 10.
Kurang lebih sudah satu bulan Fiolla di rumah Fatma dan...
"Iyah mah, udah sebulan Fio disini, ko mamah belum pulang jugas sihh.." Ucap Fiolla di dalam kamar-nya sedang menelfon Mamahnya.
"Maaf ya Fio, mungkin bulan depan lagi Mamah bisa pulang." Terdengar suara Ritna dari Handphone Fiolla.
"Oh iya mah gapapa ko mah, udah dulu ya. Fio sayang Mamah."
Fiolla hanya diam setelah mematikan Handphone-nya dengan wajah ditutupi oleh bantal. Saat di buka bantalnya terlihat basah di bantal itu. Fio menangis. Muka-nya kemerahan kalau dia menangis.
"Fio.. Makan malam yu dan lihat siapa yang datang." Hah terdengar suara Fatma dari luar kamar Fio.
Setelah pintu di buka ternyata itu Oom Haris, yang sedang duduk di meja makan.
"Hey Fio, sini.." Oom Haris memanggil Fiolla.
"Hay Oom, baru pulang dari Bandung ya?" Tanya Fio sambil berjalan kearah meja makan.
"Iya Papa baru pulang, harus-nya Papa pulang minggu depan, tapi katanya dia mau cepet-cepet ketemu kamu Fio, jadinya Papa pulang lebih awal deh." Tiba-tiba Yekta yang menjawab pertanyaan Fio.
Sangat sedih yang dilihat oleh Fiolla dimana berada di tengah keluarga yang lengkap, keluarga yang jauh dari keributan. Teringat saat Fio kecil sering sekali melihat keributan antara Mamah dan Papah Fio dirumahnya.
"Hah, Oom mau ketemu aku? Ada apa Oom?" Tanya Fiolla kepada Oom Haris.
"Oom kasih tau entar setelah makan ini habis." Lalu Oom Haris melanjutkan makan-nya.
"Sudah selesai kan Oom?" Fio bertanya setelah selesai makan.
"Oke, jadi gini hmm.." Oom Haris terlihat kebingungan.
"Apa Oom?" Fio terlihat sangat penasaran.
"Tiga hari yang lalu Oom bertemu dengan Farid di Bandung." Oom Haris berkata.
"Hah! Apa kamu ketemu dengan Rasdi?" Tanya Fatma
"Iya Oom apa ketemu sama Papah?" Tambah Fio menanyakan.
Rasdi itu nama Papah Fiolla, yang menghilang.
"Jadi gini, tiga hari yang lalu di Bandung Oom tidak sengaja melihat Farid sedang berada di toko Brownies, nah kebetulan Oom saat itu ingin beli brownies di toko itu. Lalu Oom tanya ternyata selama ini dia tinggal bersama Kakek dan Ayah-nya di Bandung." Ujar Oom Haris menceritakannya.
"Oom!! Gimana sama Papah?" Tanya Fio sedikit keras nada bicara-nya.
"Iya, tenang Fio. Saat Oom tanya tentang Rasdi kepada Farid, dia sangat menutup-nutupi tapi akhir-nya dia memberi tau kalau..." Oom Haris terlihat sangat ragu untuk memberi tahu-nya.
"Apa Oom!!!!" Teriak Fiolla yang terlihat sangat penasaran.
"Maaf Fio, Farid bilang 2 bulan yang lalu Papah kamu mengalami kecelakaan motor, sampai pendarahan parah dan akhirnya dia meninggal." Jawab Haris dengan wajah yang sedih.
Fio terlihat sangat kaget mendengar itu tidak lama pun ia lari ke kamar-nya.
Wajah merah Fiolla kembali terlihat sambil air mata yang menetes di pipinya.
"Papa udah kasih tahu Tante Ritna?" Tanya Yekta yang masih berada di meja makan.
"Ohiya, biar Mama telfon dulu." Ucap Fatma dan langsung mengambil Handphone-nya.
"Loh ko nomor-nya sibuk." Ritna berkata.
Ternyata.....
"Aku diberitahu oleh Oom Haris yang baru saja pulang." Ternyata Ritna sedang ditelfon Fiolla. Fiolla menceritakan apa yang di ceritakan Haris tadi.
"Yaudah insaallah Mamah bakal pulang cepat doakan saja Fio." Ucap Ritna di telfon itu.
Walaupun sudah menelfon Mamahnya, Fiolla masih tetap menangis sampai akhirnya dia tertidur lelap...
Sampai itu Fiolla selalu diselimuti dengan kesedihan yang terdalam, membuat rasa rindu ingin bertemu kepada Papah-nya kini sama sekali tidak mungkin terjadi.
Dua bulan kemudian.......
Ternyata sudah beberapa bulan Fiolla menunggu Mamah-nya belum juga datang sampai akhirnya..
"Fio... Liat itu siapa yang datang!!" Teriak Yekta memanggil Fiolla.
Lalu Fio pun keluar dari kamar-nya.
"MAMAH!!!!!" Fiolla terlihat histeris melihat kedatangan mamah-nya yang sudah sangat lama ia tunggu.
Kedatangan Ritna bersama seorang lelaki tinggi sekitar 175cm dengan kumis tipis yang berusia 20 tahun. Lelaki itu terus memandangi Fiolla.
"Hai Fiolla." Ucap lelaki itu.
"Kamu siapa?" Fiolla sepertinya tidak mengenali lelaki itu.
Fiolla sedikit mengenali lelaki itu tetapi dia memastikan dulu.
"Fio, ini kakak kamu. Farid." Ucap Ritna sambil tersenyum.
Dan benar apa dugaan Fio itu Kak Farid, Kakak kandung Fio.
"Kak Farid!!!!" Fiolla langsung berteriak lalu melompat dan memeluk Farid. Matanya pun menangis karena sudah lama ia tak bertemu dengan Farid.
"Mamah kok bisa ketemu sama Kak Farid?" Tanya Fio yang tangannya masih memeluk Farid.
"Waktu itu Oom Haris memberi nomor HP Mamah ke Farid, Farid langsung menghubungi Mamah, waktu semalem Mamah baru ketemuan sama Farid di Bandung." Ritna lalu menceritakan semuanya.
Sejak saat itu Farid, Fiolla, dan Mamah-nya tinggal lagi bersama. Tapi sekarang Farid yang bekerja bersama Oom Haris di perusahaan Meubel milik-nya.
Farid, Fio dan Ritna kembali menempati di rumah mereka yang lama...
Akhirnya mereka bisa berkumpul kembali walaupun tanpa ada Cahaya yang menerangi keluarga itu di setiap detiknya. Papah.