Di siang bolong ini, aku seperti melihat bintang disitu, iya diarah rekah senyum manismu. Sungguh menderang seperti bintang nan indah dilangit. Tanpa kusadari aku sedang melamun sambil melihat senyummu itu, mungkin sekitar jarak 30 meter aku memandang bintang itu, kamu.
Di siang bolong ini, lagi-lagi aku seperti melihat bulan yang sangat bercahaya di matamu, mata indahmu. Matamu bercahaya seperti bulan, yang menerangiku, menerangi hatiku saat ini.
"Udah samperin tuh." Cetus temanku, yang membangunkan lamunanku.
Aku hanya diam, diam dengan penuh makna.
Sebenarnya ini bulan apa? Panas sekali, padahal kemarin sore hujan deras.
Pertanyaan yang sama untuk situasiku saat ini.
Sebenarnya ini siang atau malam? Matahari makin membakar kulitku. Tapi, mengapa walau panas seperti ini aku malah melihat bintang dan bulan di wajahmu.
Ah sial, temanku yang satu ini semakin memaksaku untuk menemuinya, menemui sumber bintang dan bulan itu. Aku mau, tapi malu. Mengapa? Tak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.
Aku merasakannya, matahari ini sepertinya sudah tidak membakarku lagi. Tapi malah sekarang semilir angin yang datang dan pergi, bergantian menerobos kulitku. Aku semakin bingung dengan musim apa sekarang. Tapi sungguh, aku tak ingin seperti angin, yang hanya datang lalu pergi sesukanya.
Sedikit demi sedikit kuberanikan diri untuk berjalan menemuimu. Baru sedikit langkah kulihat dirimu tersenyum kecil, tapi wajahnya bukan ke arahku. Tanpa rasa sadar aku pun tersenyum ke arahmu. Semoga kau melihat. Ternyata kamu mendongkak ke arahku, aku malu. Sepertinya kamu sudah menunggu ke hadiran diriku.
Dari dekat wajahmu sungguh terlihat begitu manis siang itu.
Ohaha.
Jumat, 28 November 2014
Sabtu, 22 November 2014
Rasa Cinta Ini
Semilir angin malam masuk ke dalam pori-pori kulitku, sangat dingin terasa. Dingin sekali, meski tubuhku di balut selimut masih saja terasa dingin.
Sudah pukul 03:00 rupanya.
Sempat mengantuk saat tadi, tapi entah rasa kantuk itu menghilang saat aku mengingat wajahmu, senyummu, keceriaanmu. Terkumpul dalam satu tempat, dipikiranku. Lalu pindah ke hati. Di malam ini, di tengah dingin ini sama sekali aku tak ingin jauh darimu, sekalipun dalam mimpi.
Mengingat dirimu, mungkin kamu sudah terlelap dalam mimpi. Perasaanku takbisa bohong hanya kamu yang ada dihatiku saat ini, meskipun banyak yang menawarkan cinta.
Mataku semakin kuat menahan rasa kantuk, bayanganmu itu terasa indah. Tapi angin ini semakin gila menyerangku terasa semakin dalam memasuki tubuhku. Seperti kamu yang tiap harinya semakin gila membuatku selalu ingin memandangmu dan kaupun semakin hari terasa semakin dalam membuat perasaanku untuk terus mencintaimu.
Tak ada yang bisa salahkan cinta, jika telah membuai hati hingga lupa dunia, hingga aku lupa norma-norma. Saat kau selalu terbenak dalam hati dan pikiranku. Cinta kadang suka sebercanda itu.
Rupanya angin sudah lelah menyerangku tak terasa dingin lagi. Tapi sekarang kepalaku terasa sangat pusing, terasa ingin muntah, tapi tak bisa ku muntahkan. Aku hanya coba untuk memuntahkan semua hal buruk tentangmu, tentangku dan tentang kita.
Aku hanya masuk angin saja sepertinya, mungkin jika ditidurkan akan baik kembali. Tapi entah, seakan kamu lah yang menahan mataku ini untuk tidur.
Percayalah, kasih. Aku tak ingin kau pergi, aku tak ingin menanam benih air mata pada ladang hatiku. Yang ketika tumbuh banyak yang memetiknya.
Aku ingin berada di hatimu sendirian, berada di pikiranmu sendirian dan aku ingin berada di mimpi indahmu, bersamamu.
Sudah pukul 03:00 rupanya.
Sempat mengantuk saat tadi, tapi entah rasa kantuk itu menghilang saat aku mengingat wajahmu, senyummu, keceriaanmu. Terkumpul dalam satu tempat, dipikiranku. Lalu pindah ke hati. Di malam ini, di tengah dingin ini sama sekali aku tak ingin jauh darimu, sekalipun dalam mimpi.
Mengingat dirimu, mungkin kamu sudah terlelap dalam mimpi. Perasaanku takbisa bohong hanya kamu yang ada dihatiku saat ini, meskipun banyak yang menawarkan cinta.
Mataku semakin kuat menahan rasa kantuk, bayanganmu itu terasa indah. Tapi angin ini semakin gila menyerangku terasa semakin dalam memasuki tubuhku. Seperti kamu yang tiap harinya semakin gila membuatku selalu ingin memandangmu dan kaupun semakin hari terasa semakin dalam membuat perasaanku untuk terus mencintaimu.
Tak ada yang bisa salahkan cinta, jika telah membuai hati hingga lupa dunia, hingga aku lupa norma-norma. Saat kau selalu terbenak dalam hati dan pikiranku. Cinta kadang suka sebercanda itu.
Rupanya angin sudah lelah menyerangku tak terasa dingin lagi. Tapi sekarang kepalaku terasa sangat pusing, terasa ingin muntah, tapi tak bisa ku muntahkan. Aku hanya coba untuk memuntahkan semua hal buruk tentangmu, tentangku dan tentang kita.
Aku hanya masuk angin saja sepertinya, mungkin jika ditidurkan akan baik kembali. Tapi entah, seakan kamu lah yang menahan mataku ini untuk tidur.
Percayalah, kasih. Aku tak ingin kau pergi, aku tak ingin menanam benih air mata pada ladang hatiku. Yang ketika tumbuh banyak yang memetiknya.
Aku ingin berada di hatimu sendirian, berada di pikiranmu sendirian dan aku ingin berada di mimpi indahmu, bersamamu.
Jumat, 21 November 2014
Kamu
Kamu, laksana cahaya kecil di dalam gua yang gelap, yang jika mendekat, akan mendapatkan jalan keluar.
Mengenalmu, suatu anugrah tersendiri dalam hidupku. Percayalah, dengan hadirnya dirimu memberi semangat baru yang tertuah dalam senyum di setiap hariku.
Waktu, harus ku syukuri aku bisa bertemu denganmu setiap hari. Walaupun selalu takbisa lama saat bertemu denganmu. Setidaknya, tetap ku syukuri.
Kamu, yang selalu buatn jantungku berdebar, saat itu pula kau menyapa, memberi senyum yang menerka hatiku dengan penuh kesenangan.
Kamu, selalu punya seribu cerita yang selalu bisa buatku tersenyum dan seribu canda yang selalu bisa buatku tertawa.
Tulus, ingin ku bisik telingamu bahwa sesungguhnya aku sangat tulus mencintaimu, menyayangimu. Dengan harapan kau memliki rasa sepertiku.
Aku, seperti burung kenari yang malu berkicau di depan pemiliknya, seperti aku yang selalu malu ketika bertemu denganmu. Walaupun hati kecil ini sedang asyik menari-nari di dalam tubuhku.
Cinta, aku sadar cinta ini telah hadir memasuki rongga-rongga tubuhku. Rekah senyummu selalu hati dan pikiranku yang tiap harinya ku bawa tuk menghiasi hari-hariku.
Tangis, sama sekali tak ingin ada tangis dalam kisah ini. Semoga saja sifatmu tak akan berubah sampai kapan pun. Sungguh, aku ingin sifatmu itu bertahan. Walau aku belum bisa memilikimu.
Kamu, senyummu, tawamu, candamu. Sungguh, tak ingin kulalui dengan cepat semua ini. Dengan seribu yakin, aku percaya. Aku tak akan melupakanmu.
Mengenalmu, suatu anugrah tersendiri dalam hidupku. Percayalah, dengan hadirnya dirimu memberi semangat baru yang tertuah dalam senyum di setiap hariku.
Waktu, harus ku syukuri aku bisa bertemu denganmu setiap hari. Walaupun selalu takbisa lama saat bertemu denganmu. Setidaknya, tetap ku syukuri.
Kamu, yang selalu buatn jantungku berdebar, saat itu pula kau menyapa, memberi senyum yang menerka hatiku dengan penuh kesenangan.
Kamu, selalu punya seribu cerita yang selalu bisa buatku tersenyum dan seribu canda yang selalu bisa buatku tertawa.
Tulus, ingin ku bisik telingamu bahwa sesungguhnya aku sangat tulus mencintaimu, menyayangimu. Dengan harapan kau memliki rasa sepertiku.
Aku, seperti burung kenari yang malu berkicau di depan pemiliknya, seperti aku yang selalu malu ketika bertemu denganmu. Walaupun hati kecil ini sedang asyik menari-nari di dalam tubuhku.
Cinta, aku sadar cinta ini telah hadir memasuki rongga-rongga tubuhku. Rekah senyummu selalu hati dan pikiranku yang tiap harinya ku bawa tuk menghiasi hari-hariku.
Tangis, sama sekali tak ingin ada tangis dalam kisah ini. Semoga saja sifatmu tak akan berubah sampai kapan pun. Sungguh, aku ingin sifatmu itu bertahan. Walau aku belum bisa memilikimu.
Kamu, senyummu, tawamu, candamu. Sungguh, tak ingin kulalui dengan cepat semua ini. Dengan seribu yakin, aku percaya. Aku tak akan melupakanmu.
Senin, 10 November 2014
Rindu sesaat Hujan turun.
Hujan selalu menarik untuk dilihat saat rindu ini menyerang, seakan hanya hujan rintik ini yang menemani ku saat ini.
Bukan yang pertama seperti ini kulakukan, untuk ke sekian kali-nya aku berkhayal saat aku ada di teras rumah ini, datang pria dan wanita yang berwajah mirip denganku datang bersama bertemu denganku dan memeluk-ku dalam ke adaan hujan seperti ini. Mama, Papa. Memang itu hanya sia-sia karena walaupunku seribu kali berkhayal seperti itu Mama dan Papa tak mungkin datang bersamaan. Aku hanya bisa menyalahkan waktu, mengapa hanya sebentar waktu yang kulalui bersama-nya, mengapa hanya sebentar mereka bisa mengajarkan arti hidup.
Sekarang aku hanya bisa berkhayal dan merindu akan kehadiran sosok merekaa, Mereka mungkin tahu aku selalu merindu padanya. Atau mungkin tak tahu. Berharap saja.
Aku lupa kapan terakhir mereka berpegangan tangan, aku lupa kapan terakhir mereka bercengkrama bersama, aku lupa kapan terakhir kita berkumpul bersama. Tapi yang aku tahu, mereka pernah saling mencintai yang entah apakah rasa itu masih ada atau tidak.
Dalam keadaan apapun, harapanku hanyalah selalu bisa tersenyum walau hanya senyum palsu.
Aku tetaplah diriku, adik dari kakak laki-laki yang telah berkeluarga, sama sepertiku. Sering sekali kulihat Kakak-ku memperlihatkan keceriaan-nya di depanku. Bisaku tebak keceriaan itu palsu sepertiku.
Ketika saatku ditemani hujan. Terkadang Dunia aku anggap tidak adil, apa salahku? mengapa harus aku yang mengalami hal pahit ini? Kedua orang tuaku masih hidup, tapi mengapa aku sama sekali tidak bisa merasakan kasih sayang orang tua di usia remaja sama seperti teman-temanku rasakan itu.
Pertanyaan yang selalu ku tanyakan pada air mata dan air hujan saat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)