Selasa, 15 Desember 2015

Aku yang Rasakan

Hariku kembali di depak sepi, aku seakan di usir pergi dari keramaian tak jelas ini, hanya keresahan terdapat.

Apa ada lagi kesedihan yang lebih parah dari perceraian orang tua? Jika ada, tolong beritahu apa itu macan bentuknya, biar aku rasakan kesedihan yang itu saja.

Pelukan orang tua seakan barang langka nan susah di dapat bagiku, kebahagian keluarga hanya mitos untuk ku yang tak lagi tau apa itu macamnya.

Aku ingin bertanya,

Apa kamu tau rasanya?
Merindu masa kecil dulu, sangat merindu, dimana tangis adalah kebahagian yang teramat dalam pelukan.

Apa kamu tau rasanya?
Sepi yang di landa hariku, dimana tak ada lagi ceria, bahagia atau apapun itu bentuknya. Bersama, berbagi cerita, saat bersama orang tua. Aku rindu.

Apa kamu tau rasanya?
Melihat teman sebaya sedang asik bersama keluarga, berkumpul, bermain. Sedang aku hanya terdiam cemburu bersama linangan air mata.

Apa kamu tau rasanya?
Di remehkan semua orang, tak di urus, tak punya masa depan, tak punya lagi semangat untuk hidup. Aku manusia biasa, bisakah kalian pandang sebagai manusia biasa juga?

Apa lagi yang kalian ketahui tentang perceraian keluarga? Aku yang merasa, kalian cukup duduk santai memakan kue dan diselingi teh hangat. Sedang semua ini hanya aku yang rasakan.

Jumat, 14 Agustus 2015

Belum Ada Judul

Masih berada disini, sofa tua yang melegenda. Tempat aku mengingat dirimu dari dalam doa. Tempat aku membuang airmata karena rindu yang begitu nyata.

Tak ingin ku hancurkan mimpi kita, kembali bersatu dan menikah denganmu. Semoga itu bukan bualan akan kisah sekarang yang menghancurkan perasaan.

Aku merindukanmu, setiap waktu.
Mengharap kembali, nyaris tak bisa, kau terlalu sempurna untuk di miliki. Kau terlalu sempurna untuk di cari.
Aku hanya serpihan sampah yang tidak pernah kau anggap keberadaanya.
Terlalu banyak kekurangan untuk kau cinta.

Memang sudah seperti ini, melihatmu dimiliki orang lain. Entah siapa yang salah, aku hanya bisa melihatmu dengan airmata.

Mungkin waktu telah tepat untuk kau melupakanku. Dalam doa aku selalu berharap itu tak akan pernah terjadi.
Tak akan pernah bisa di lupakan, tentangmu masih utama di perasaan.

Aku memang pernah kau miliki, tapi tak pernah kau anggap.
Bintang tak hanya satu di dunia ini, kau bisa pilih sesuka hatimu.
Tapi aku hanya berharap satu bintang, berhamburan bintang disekitarnya, tetap kaulah satu-satunya.

Selamat bahagia dengan pasanganmu, kelak kau akan tau siapa yang paling mencintaimu.

Aku merindukanmu, itu selalu.

Minggu, 14 Juni 2015

Terimakasih

Tentang masa lalu yang sulit untuk berdamai. Saat harus mengembalikan senyummu di tengah ombak pantai.
Terimakasih.
Telah memberi sepi tanpa sedikitpun ramai.

Saat rindu datang dan bersemayang di ladang hatiku, saat itu pula akan selalu ku tanam dalam buai perih tentang kepergianmu. Kamu, yang tak sedikitpun memiliki rasa rindu sejak dulu kau mengucap sakitnya kata perpisahan, kata terkeji dari kesadaran yang tak direlakan.

Dalam kesunyian malam, aku ingin memelukmu bagai rasa sayang yang begitu dalam, namun sangat cepat rasa sayang itu padam. Membiarkanmu pergi adalah kekecewaan paling nyata yang begitu hina, menguras air mata penuh derita.

Tiap jiwa yang perih mungkin punya tempat tuk bermuara.
Walau sering kali tersesat saat harus menghidupkan lentera tanpa cahaya.

Setidaknya aku mengerti sekarang, tidak sedikitpun kau memiliki rasa sayang, rasa cintaku bagai tertiup angin jauh pergi melayang. Saat teringat ucapanmu; Rasa cinta dengan penuh sandiwara tanpa makna yang hanya memberiku derita untuk membuang air mata.
Deras turun menuju hati yang penuh dengan luka.

Terimakasih.
Telah memberi cerita tanpa kesan yang berwarna..

Sering kucoba menyangkal pedih yang membara.
Mamun aku tak punya kuasa untuk menaffikan lara.
Rembulan pun bingung masih saja aku mencintainya, karena rasa sakit yang terus dialamiku. Kamu sangat aneh sebagai wanita; Datang hanya memberi luka namun saat pergi memberi rindu penuh tanda tanya. Sebelumnya masih selalu terbayangkan untuk sibuk melupakan bayangmu. Hanya waktu yang tahu kapan aku akan bisa melupakanmu. Tapi sekarang, izinkanlah aku mengucap sayang sampai nantinya berganti usang.
Jika kau ingin tahu, hobiku sekarang adalah merindukanmu apalagi sambil melihat langit yang biru, seperti tenggelam dalam lautan kenangan yang tersimpan rapih dalam ingatan.

Karena memilikimu lagi aku tak pernah bisa, keputusanmu adalah sehebat-hebatnya kuasa yang membunuh rasa.

Terimakasih.
Telah memberi kepedihan yang begitu nyata akan keputusan yang tak direlakan..

Rabu, 20 Mei 2015

Aku Masih Mencintaimu

Terdengar denyut nadi yang tak lagi berirama, menandakan kepergianmu dan mendatangkan derita sejak dua minggu lalu. Sungguh pilu, kamu pergi begitu saja, melupakan perjuanganku dulu saat mendapatkanmu. Aku terlihat begitu hampa dalam keadaan ini, terasa sepi, teramat tak berarti, teruntuk kamu yang memberi pahitnya patah hati.

Selalu saja aku terbayangan kala kau memberi senyuman yang membuat rasa cinta padamu semakin dalam. Kepergiaanmu dua minggu lalu sungguh sulit terfikir oleh logika, begitu saja, membuat kecewa pada hati yang ditaburi banyak luka. Bahkan sempat terfikir olehku dulu untuk memilikimu dengan jangka waktu yang lama, namun apa, hanya satu bulan waktu yang diberimu untuk mencintaiku.

Satu bulan waktunya. Waktu bahagiaku denganmu saat denyut nadi begitu harmoni dengan irama penuh melodi. Padahal aku selalu bermimpi ingin memelukmu lebih lama, lebih dari yang orang-orang kira, tapi kau yang telah menhancurkan mimpiku dengan kejamnya kata perpisahan.

Sejak satu minggu lalu kau meninggalkanku selalu ku taruh tengah malam untuk merindu padamu, untuk mengingatmu walau selalu keluar desak tangis dari wajah pria yang dulu kau cintai.
Mengertilah, tak secepat itu cinta berpindah, untuk saat ini mungkin hanya dirimu yang akan selalu mengisi hatiku. Jikalau aku telah menghilangkanmu dari hati, aku pun masih harus bergelut dengan perasaan tentang siapa pendamping dirimu nanti.

Aku ingin memilikimu. Aku. Ingin. Memiliku. Kata-kata yang hanya terlintas dari ujung bibir saat dulu aku menyatakan cinta padamu, dengan tangan menyodorkan bunga mawar. Kau hanya mengangguk ditambah senyuman manis, menandakan aku diterima untuk memiliku. Hari itu sungguh selalu teringat dan ingin ku ulang ratusan kali. Engkau, rasanya tak pernah merasakan rasanya begitu bahagianya saat kau mampu menerima pria yang nyaris tak memiliki apapun ini.

Rembulan pun menertawakan perjuanganku saat mendapatkanmu dulu, sungguh membuatku malu akan hal-hal bodoh yang telah berlalu.

Terlitas dipikiranku tentangmu akankah kau menyadari siapa pria yang paling mencintaimu. Jika itu bukan aku, akankah dia bisa memperjuangkan dirimu seperti diriku ini?

Aku. Masih. Mencintaimu.

Selasa, 05 Mei 2015

Asmara Sebagai Luka

Sofa kuning ini masih setia menemani sambil ku baringkan badan untuk menunggu pagi datang, tak tidur sejak malam. Masih selalu terbayang indah paras wajahmu, yang belum lamaku kenal. Kamu, seakan datang menutupi rindu, mengisahkan waktu yang telah tertingal kisah masa lalu.
Ada rasa kebahagian yang menyergap, pada wanita yang tampak sekilas nyaris sempurna.

Aku bukan lelaki yang pas untukmu. Kamu, wanita yang telah memiliki kekasih. Aku hanya mengagumi kilauan wajahmu dari kejauhan, mengagumi rekah senyumu dari bayang mimpi, tanpa berfikir kau sudah miliki pendamping hati. Jangan abaikan perasaanku, perasaan yang semakin hari semakin matang untuk di ungkapkan.

Aku cinta dirimu, kamu cinta dirinya. Apakah salah? Jika cinta ini semakin hari semakin merekah. Andai saja...

Hari ke hari, bulan ke bulan. Hal yang kutunggu sejak dulu tak kunjung datang, ketika kamu dan kekasihmu berpisah, nampaknya salah. Sebaliknya, kamu malah semakin mesra bersamanya. Kesetiaan kalian semakin nyata. Tak usah di tanya berapa kali aku merasa sakit hati. Seharusnya ini tidak pernah terjadi, jika aku tak mencintaimu.

Semua tentang aku cinta kamu. Tidak ada keputusan lain selain aku harus keluar dari rongga-rongga kecil dalam khayalan untuk memilikimu, namun bagaimana. Itu semua nyaris mustahil.

Kamu, wanita yang terlahir seperti bidadari, tiba-tiba datang mengusik sepi. Namun, aku sangat salah mengaggumimu. Pasanganmu juga sama, terlahir seperti dewa. Kamu dengan pasanganmu tidak pernah marah, jengkel apalagi kecewa.
Aku tahu, semua ini terlihat tak tahu diri, aku begitu hina. Mencintaimu yang jelas telah mimiliki pasangan. Sesal pun percuma, jika masih banyak celah duka dalam cinta yang tak mungkin menjadi cerita, antara kita berdua. Namun kenyataanya, antara kau dan dia.

Langit mementahkan gemuruh, keadaan ini membuatku semakin rapuh. Langkah pun melupa pijakan, harapku tertatih dimakan kasih tak sampai. Kamu terlihat percuma, adanya dirimu hanya bisa tergambar oleh mimpi dan lamunan. Rona cerah pun menyingkap langit, waktu memukulku seraya membisikkan kenyataan yang begitu pahit.
Pagi ini dan sebuah kesaksian akan sungai deras yang mengalir di pipi. Menikmati patah hati bersanding sepi.


Selasa, 21 April 2015

Telah Hilang

Saat putaran awan menatap hati yang aku bisa hanya melihat mimpi diantara burung kenari lepas tak berarah saat yang bersamaan aku melihat senyummu dalam mimpi yang indah seperti waktu dulu, kamu. Mendengar ringisanku yang pilu karna dirimu yang telah berpaling. Engkau bagaikan maling yang telah mencuri hatiku lalu pergi begitu saja seperti tak bersalah. Waktu ku kau cabik-cabik hanya untuk menjadikan masa lalu yang kini telah terbuai menjadi rindu.
Kini hanya hitam putih warna di hati, tak menjadikan yang indah seperti waktu dulu. Bersedialah menjadikan malam sebagai waktuku hanya untuk merindu padamu, kamu yang kini tengah bahagia dengannya.

Ingatkah saat itu, aku fokus melihat senja di wajahmu, bukan salahmu jika senja itu tak bisa dilupakan. Seiring berjalan nya masa, kini semakin kuat gelombang air menerjang semesta kelam yang tengah bersemayang di hati tak berwarna. Wajahmu adalah seribu alasan mengapa sampai detik ini sayangku masih amat sangat kuat bertahan meski harus berkali-kali di hajar ratusan kali pukulan.

Pernahkah kau merasakan seperti ini, di hajar rasa kecewa yang menguasai perihnya perpisahan. Maafkanlah, jika rindu ini bisa membalas rasa kecewa, akan selamanya ku merindukan mu di tengah malam yang kelam.

Kamu hilang, pergi dari singgasana hatiku, di curi pria yang sudah membuatmu melupakanku. Kejamnya. Kau hilang begitu saja, dengan dia yang lebih indah di matamu.

Aku masih akan selalu iri melihatmu yang di buat bahagia bukan olehku lagi, seperti melihat kobaran api yang tertutup asap kecemburuan padanya. 
Berilah sedikit, aku menginginkan senyuman itu, senyuman yang dulu selalu kau berikan padaku, yang kini hanya tinggal kilauan pilu yang mungkin telah larut oleh waktu. 

Kamu, tentang hal bahagia dulu yang masih tersimpan jelas dalam hatiku. t

Minggu, 22 Maret 2015

Mama

Senyuman di wajahnya, sunguh wanita yang selalu ku sayang dan ku cinta, yang tak pernah larut oleh masa. Mama. Di umurmu yang hampir menuju senja kau masih sibuk bekerja untuk anakmu yang kadang tak tau diri ini, anakmu yang menyayangimu tapi tak pernah membuktikan apa-apa. Aku selalu berjanji akan buatmu bangga, akan buatmu menangis bahagia oleh hasil apa yang kubuatkan apapun hasilnya nanti.

Meskipun aku lupa kapan terakhir engkau memeluk erat tubuhku seperti anak lain yang selalu di peluk Mama-nya setiap hari. Tetapi selalu kurasakan pelukanmu walau engkau tak berada di sampingku. Aku rindu sosok Mama yang dulu, yang selalu ada di sampingku tiap waktu, tak perlu lelah bekerja hanya untuk buatku bahagia. Aku rindu saat selalu ku-usahakan untuk buatmu tersenyum kala masih di sekolah dasar dulu.

Tak ku ras telah bertahun-tahun tak lagi hidup denganmu. Mama. Buanglah rasa syirik-ku terhadap anak seumuranku yang lain. Anak yang bisa memeluk dan mencium Mama-nya kapan pun ia mau.

Hampa jiwa tanpamu disamping ini membuatku tak lagi jadi buah hati yang sangat baik seperti dulu. Jiwa ini seketika berubah menjadi anak yang tak tahu apa itu arti termikasih dari hasil keringat orang tuanya.

Mama, mungkin engkau malu miliki anak sepertiku.
Mama, mungkin engkau malu miliki anak yang sama sekali tak kau harapkan lahir saatku masih dalam kandungan dulu.
Tapi Mama, doakanlah aku agar bisa membuatmu bahagia saat sukses nanti, saat bisa memberikanmu hasil kerja kerasmu seperti kau sekarang ini.

Aku sangat mensyukurinya. Miliki Mama yang sangat tegar menafkahi anakmu yang jauh disini. Anak-anak lain seharusnya syirik terhadapku yang memiliki Mama seperti engkau, engkau yang selalu tersenyum pada tingkah laku diriku yang begitu hina ini.


Tutuplah matamu, akan ku cium dan ku peluk kau lewat doa yang mengalir lewat tangisan ini.