Senyuman di wajahnya, sunguh wanita yang selalu ku sayang dan ku cinta, yang tak pernah larut oleh masa. Mama. Di umurmu yang hampir menuju senja kau masih sibuk bekerja untuk anakmu yang kadang tak tau diri ini, anakmu yang menyayangimu tapi tak pernah membuktikan apa-apa. Aku selalu berjanji akan buatmu bangga, akan buatmu menangis bahagia oleh hasil apa yang kubuatkan apapun hasilnya nanti.
Meskipun aku lupa kapan terakhir engkau memeluk erat tubuhku seperti anak lain yang selalu di peluk Mama-nya setiap hari. Tetapi selalu kurasakan pelukanmu walau engkau tak berada di sampingku. Aku rindu sosok Mama yang dulu, yang selalu ada di sampingku tiap waktu, tak perlu lelah bekerja hanya untuk buatku bahagia. Aku rindu saat selalu ku-usahakan untuk buatmu tersenyum kala masih di sekolah dasar dulu.
Tak ku ras telah bertahun-tahun tak lagi hidup denganmu. Mama. Buanglah rasa syirik-ku terhadap anak seumuranku yang lain. Anak yang bisa memeluk dan mencium Mama-nya kapan pun ia mau.
Hampa jiwa tanpamu disamping ini membuatku tak lagi jadi buah hati yang sangat baik seperti dulu. Jiwa ini seketika berubah menjadi anak yang tak tahu apa itu arti termikasih dari hasil keringat orang tuanya.
Mama, mungkin engkau malu miliki anak sepertiku.
Mama, mungkin engkau malu miliki anak yang sama sekali tak kau harapkan lahir saatku masih dalam kandungan dulu.
Tapi Mama, doakanlah aku agar bisa membuatmu bahagia saat sukses nanti, saat bisa memberikanmu hasil kerja kerasmu seperti kau sekarang ini.
Aku sangat mensyukurinya. Miliki Mama yang sangat tegar menafkahi anakmu yang jauh disini. Anak-anak lain seharusnya syirik terhadapku yang memiliki Mama seperti engkau, engkau yang selalu tersenyum pada tingkah laku diriku yang begitu hina ini.
Tutuplah matamu, akan ku cium dan ku peluk kau lewat doa yang mengalir lewat tangisan ini.
Minggu, 22 Maret 2015
Senyum Cinta
Pagi ini dan sebuah keramaian jalanan, kembaliku mengisi hari menempuh pendidikan walau kadang terasa malas namunku bisa melihat senyummu meski hanya sekilas. Mari pergi sekolah menuntut ilmu sembari mengintip wajahmu yang ceria, wajah manismu yang terpampang dalam keadilan cerita yang indah, sangat indah, tak bisa pun ditutupi. Indahnya cerita ini kau hadirkan dengan berbagai macam cara membuatku semakin tergila-gila.
Rasa sayang ini semakin ranum, terlihat perilaku bodohku saat berpapasan denganmu. Aku menyayangimu tanpa makna, tanpa luka dan derita. Sungguh, rasa ini terlihat dengan sempurna. Sekolahku adalah kebahagiaanku, apalagi saat bertemu kamu.
Kapan kita berdua? Berbagi cerita dalam suka maupun duka, dalam pikiranmu dan hatiku. Bukan kisah yang buruk jika di lukiskan dalam sajak cakrawala, tentang hal bahagia yang mungkin bisa saja menjadi luka jika semesta tak memberi masa pada kita berdua. Goyangan sendok teh penuh kasmaran teraduk dalam satu cangkir kebahagiaan kita, teraduk hangat sampai bersatu padu dengan keikhlasan jiwa. Teh hangat yang begitu nikmat apalagi jika meminum dari dasar cinta.
Remaja ini indah dari kisah yang begitu berarti sampai mampu menghancurkan kuatnya sepi.
Rasa sayang ini semakin ranum, terlihat perilaku bodohku saat berpapasan denganmu. Aku menyayangimu tanpa makna, tanpa luka dan derita. Sungguh, rasa ini terlihat dengan sempurna. Sekolahku adalah kebahagiaanku, apalagi saat bertemu kamu.
Kapan kita berdua? Berbagi cerita dalam suka maupun duka, dalam pikiranmu dan hatiku. Bukan kisah yang buruk jika di lukiskan dalam sajak cakrawala, tentang hal bahagia yang mungkin bisa saja menjadi luka jika semesta tak memberi masa pada kita berdua. Goyangan sendok teh penuh kasmaran teraduk dalam satu cangkir kebahagiaan kita, teraduk hangat sampai bersatu padu dengan keikhlasan jiwa. Teh hangat yang begitu nikmat apalagi jika meminum dari dasar cinta.
Remaja ini indah dari kisah yang begitu berarti sampai mampu menghancurkan kuatnya sepi.
Kamis, 19 Maret 2015
Si Miskin
Darimana datangnya rezeki
Pada si miskin yang meminta minta
Bibirnya tak mau berhenti
Meminta untuk sesuap nasi
Lewat hati kuberdoa
Dan memberi sedikit yang kupunya
Wajahnya pucat
Sungguh manusia kelaparan
Tak banyak yang kasihan
Tak banyak pula yang memberimu uang
Malangnya
Berjalan dengan pincang
Tak pakai alas kak
Terasa sakit saat melangkah
Sampai datangnya gelap
Mencoba tidur dalam pekat malam
Sambil menghitung hasil meminta seharian
Pada si miskin yang meminta minta
Bibirnya tak mau berhenti
Meminta untuk sesuap nasi
Lewat hati kuberdoa
Dan memberi sedikit yang kupunya
Wajahnya pucat
Sungguh manusia kelaparan
Tak banyak yang kasihan
Tak banyak pula yang memberimu uang
Malangnya
Berjalan dengan pincang
Tak pakai alas kak
Terasa sakit saat melangkah
Sampai datangnya gelap
Mencoba tidur dalam pekat malam
Sambil menghitung hasil meminta seharian
Takut Rindu
Hai teman seperjuangan
Sepertinya rindu mulai menyerang kalian
Jangan engkau bawa seluruh kenangan
Berilah sedikit untuk ku simpan
Jika rindu, apakah harus ku sembunyikan?
Disini kita masih bersama
Disini aku sungguh merasakan
Sahabat, Musuh, Cinta
Semua.
Kita memang berbeda
Tapi jika bersama menjadi sama
Sangat kuat seperti baja
Tak goyah walau di landa bahaya
Apakah kita masih seperti ini jika telah tak bersama?
Sekian lama yang kita jalani
Semua kesusahan yang kita lalui
Semoga itu semua bukan basa-basi
Ku ingin semua itu memiliki arti
Ketakutan ini akan menjemputku
Ketakutan akan datangnya Rindu
Tapi semoga saja nanti kita masih bisa bertemu
Walaupun tidak seperti dulu
Sepertinya rindu mulai menyerang kalian
Jangan engkau bawa seluruh kenangan
Berilah sedikit untuk ku simpan
Jika rindu, apakah harus ku sembunyikan?
Disini kita masih bersama
Disini aku sungguh merasakan
Sahabat, Musuh, Cinta
Semua.
Kita memang berbeda
Tapi jika bersama menjadi sama
Sangat kuat seperti baja
Tak goyah walau di landa bahaya
Apakah kita masih seperti ini jika telah tak bersama?
Sekian lama yang kita jalani
Semua kesusahan yang kita lalui
Semoga itu semua bukan basa-basi
Ku ingin semua itu memiliki arti
Ketakutan ini akan menjemputku
Ketakutan akan datangnya Rindu
Tapi semoga saja nanti kita masih bisa bertemu
Walaupun tidak seperti dulu
Rabu, 18 Maret 2015
Hujan Kini Tak Lagi Metafora
Kini hujan bukan lagi metafora
Air turun tak lagi melukiskan apapun
Hujan tetap hujan
Bukan lagi cerita atau kenangan
Meski dulu selalu menerjemahkan perasaan
Aku yang cinta hujan
Yang selalu memanfaatkan
Walaupun dengan hal-hal bodoh
Hal-hal yang membuat risiko demam
Di bawah deru hujan
Melihat manusia yang berteduh
Mereka yang takut basah
Bukan takut kenangan
Bukan takut demam
Pemilik padi tersenyum
Bersama tanah yang jarang senang
Melihat hujan
Turun dengan ikhlas ke bumi
Menguntungkan banyang rezeki
Dan aku pun bisa makan nasi
Apa hanya diriku
Mencintai air yang turun sebelum senja
Mencintai karena memang cinta
Bukan dengan arti apapun
Perihal hujan yang selalu datang
Karena sekarang hujan bukan lagi metafora
Hujan tetap air dan manfaatnya
Tak lagi memiliki arti dan filosofi
Bogor, 15 Maret. Di kala basah.
Air turun tak lagi melukiskan apapun
Hujan tetap hujan
Bukan lagi cerita atau kenangan
Meski dulu selalu menerjemahkan perasaan
Aku yang cinta hujan
Yang selalu memanfaatkan
Walaupun dengan hal-hal bodoh
Hal-hal yang membuat risiko demam
Di bawah deru hujan
Melihat manusia yang berteduh
Mereka yang takut basah
Bukan takut kenangan
Bukan takut demam
Pemilik padi tersenyum
Bersama tanah yang jarang senang
Melihat hujan
Turun dengan ikhlas ke bumi
Menguntungkan banyang rezeki
Dan aku pun bisa makan nasi
Apa hanya diriku
Mencintai air yang turun sebelum senja
Mencintai karena memang cinta
Bukan dengan arti apapun
Perihal hujan yang selalu datang
Karena sekarang hujan bukan lagi metafora
Hujan tetap air dan manfaatnya
Tak lagi memiliki arti dan filosofi
Bogor, 15 Maret. Di kala basah.
Langganan:
Postingan (Atom)