Minggu, 28 Desember 2014

Merindu lagi.

Malam ini. Dibalik luka, kubaringkan diriku di sofa tua berwarna kuning pudar, berada di teras rumahku. Hampir setiap malam kulakukan seperti ini, walau pun tak ada cahaya, tak ada bintang tapi tetap ada bulan yang setia menemaniku malam ini.

Di depan gerbang rumah, aku lihat anak perempuan seumuranku berjalan bersama mamanya dan kulihat juga tangan anak itu merangkul di pundak mamanya, mereka berdiam depan gerbang rumahku, terdengar di telinga anak itu sedang bercerita tentang kisahnya dengan mamanya begitu indah. Tak lama kemudian ada seorang pria dewasa mirip dengan anak itu datang menemuinya, benar saja itu ayahnya. Langsung ia peluk kencang ayahnya, padahal hanya baru pulang kerja saja dari pagi.

Aku melihatnya dengan serius, tanpa terasa air mata turun perlahan. Entah, berapa puluh liter air mata yang sudah ku keluarkan setiap aku melihat seperti itu, setiap aku merindu mengingat mereka.
Mama, Papa.

Aku rindu.

Sabtu, 06 Desember 2014

Antara Hujan dan Penyesalan.

Tentang air yang jatuh dari langit dan tentang perasaan yang turun dari hati.

Hujan ini turun lagi, membasahi indahnya semesta.
Seirama dengan datangnya sesal yang tiada tara.
Rasa sesal yang makin tergenang dalam kepala.
Jiwaku tergantung pada suasana yang tak terduga.
Dan pada akhirnya aku harus sembunyi pada dunia.

Teringat kau dan aku duduk bersebelah.
Mungkin itu telah menjadi sejarah saat kita berbagi kisah.

Rinduku bagai serpihan sampah dijalanan yang basah.
Tak ada yang bisa di ubah, yang ada hanya hati dan perasaan yang resah.
Tak ada juga gairah saat linangan lara membuncah.
Tapi bagaimanpun semua sudah terbukti, aku yang salah.
Walau seribu maaf, yang kudapat hanyalah rasa gundah.


Hujan itu berhenti di sore hari.
Yang ku bisa hanya berbaring sambil memandang indahnya pelangi.
Sangat indah, namun tak seindah perasaanku ini.
Yang ku mau saat ini hanya bersamamu lagi.
Sungguh, cerita kisah ini tak ingin ku akhiri.
Aku mencintaimu. Walaupun lewat mimpi.