Sofa kuning ini masih setia menemani sambil ku baringkan badan untuk menunggu pagi datang, tak tidur sejak malam. Masih selalu terbayang indah paras wajahmu, yang belum lamaku kenal. Kamu, seakan datang menutupi rindu, mengisahkan waktu yang telah tertingal kisah masa lalu.
Ada rasa kebahagian yang menyergap, pada wanita yang tampak sekilas nyaris sempurna.
Aku bukan lelaki yang pas untukmu. Kamu, wanita yang telah memiliki kekasih. Aku hanya mengagumi kilauan wajahmu dari kejauhan, mengagumi rekah senyumu dari bayang mimpi, tanpa berfikir kau sudah miliki pendamping hati. Jangan abaikan perasaanku, perasaan yang semakin hari semakin matang untuk di ungkapkan.
Aku cinta dirimu, kamu cinta dirinya. Apakah salah? Jika cinta ini semakin hari semakin merekah. Andai saja...
Hari ke hari, bulan ke bulan. Hal yang kutunggu sejak dulu tak kunjung datang, ketika kamu dan kekasihmu berpisah, nampaknya salah. Sebaliknya, kamu malah semakin mesra bersamanya. Kesetiaan kalian semakin nyata. Tak usah di tanya berapa kali aku merasa sakit hati. Seharusnya ini tidak pernah terjadi, jika aku tak mencintaimu.
Semua tentang aku cinta kamu. Tidak ada keputusan lain selain aku harus keluar dari rongga-rongga kecil dalam khayalan untuk memilikimu, namun bagaimana. Itu semua nyaris mustahil.
Kamu, wanita yang terlahir seperti bidadari, tiba-tiba datang mengusik sepi. Namun, aku sangat salah mengaggumimu. Pasanganmu juga sama, terlahir seperti dewa. Kamu dengan pasanganmu tidak pernah marah, jengkel apalagi kecewa.
Aku tahu, semua ini terlihat tak tahu diri, aku begitu hina. Mencintaimu yang jelas telah mimiliki pasangan. Sesal pun percuma, jika masih banyak celah duka dalam cinta yang tak mungkin menjadi cerita, antara kita berdua. Namun kenyataanya, antara kau dan dia.
Langit mementahkan gemuruh, keadaan ini membuatku semakin rapuh. Langkah pun melupa pijakan, harapku tertatih dimakan kasih tak sampai. Kamu terlihat percuma, adanya dirimu hanya bisa tergambar oleh mimpi dan lamunan. Rona cerah pun menyingkap langit, waktu memukulku seraya membisikkan kenyataan yang begitu pahit.
Pagi ini dan sebuah kesaksian akan sungai deras yang mengalir di pipi. Menikmati patah hati bersanding sepi.

terimakasih gan :D
BalasHapus