Senyuman di wajahnya, sunguh wanita yang selalu ku sayang dan ku cinta, yang tak pernah larut oleh masa. Mama. Di umurmu yang hampir menuju senja kau masih sibuk bekerja untuk anakmu yang kadang tak tau diri ini, anakmu yang menyayangimu tapi tak pernah membuktikan apa-apa. Aku selalu berjanji akan buatmu bangga, akan buatmu menangis bahagia oleh hasil apa yang kubuatkan apapun hasilnya nanti.
Meskipun aku lupa kapan terakhir engkau memeluk erat tubuhku seperti anak lain yang selalu di peluk Mama-nya setiap hari. Tetapi selalu kurasakan pelukanmu walau engkau tak berada di sampingku. Aku rindu sosok Mama yang dulu, yang selalu ada di sampingku tiap waktu, tak perlu lelah bekerja hanya untuk buatku bahagia. Aku rindu saat selalu ku-usahakan untuk buatmu tersenyum kala masih di sekolah dasar dulu.
Tak ku ras telah bertahun-tahun tak lagi hidup denganmu. Mama. Buanglah rasa syirik-ku terhadap anak seumuranku yang lain. Anak yang bisa memeluk dan mencium Mama-nya kapan pun ia mau.
Hampa jiwa tanpamu disamping ini membuatku tak lagi jadi buah hati yang sangat baik seperti dulu. Jiwa ini seketika berubah menjadi anak yang tak tahu apa itu arti termikasih dari hasil keringat orang tuanya.
Mama, mungkin engkau malu miliki anak sepertiku.
Mama, mungkin engkau malu miliki anak yang sama sekali tak kau harapkan lahir saatku masih dalam kandungan dulu.
Tapi Mama, doakanlah aku agar bisa membuatmu bahagia saat sukses nanti, saat bisa memberikanmu hasil kerja kerasmu seperti kau sekarang ini.
Aku sangat mensyukurinya. Miliki Mama yang sangat tegar menafkahi anakmu yang jauh disini. Anak-anak lain seharusnya syirik terhadapku yang memiliki Mama seperti engkau, engkau yang selalu tersenyum pada tingkah laku diriku yang begitu hina ini.
Tutuplah matamu, akan ku cium dan ku peluk kau lewat doa yang mengalir lewat tangisan ini.
jadi kangen bokap nih
BalasHapus