Bukan yang pertama seperti ini kulakukan, untuk ke sekian kali-nya aku berkhayal saat aku ada di teras rumah ini, datang pria dan wanita yang berwajah mirip denganku datang bersama bertemu denganku dan memeluk-ku dalam ke adaan hujan seperti ini. Mama, Papa. Memang itu hanya sia-sia karena walaupunku seribu kali berkhayal seperti itu Mama dan Papa tak mungkin datang bersamaan. Aku hanya bisa menyalahkan waktu, mengapa hanya sebentar waktu yang kulalui bersama-nya, mengapa hanya sebentar mereka bisa mengajarkan arti hidup.
Sekarang aku hanya bisa berkhayal dan merindu akan kehadiran sosok merekaa, Mereka mungkin tahu aku selalu merindu padanya. Atau mungkin tak tahu. Berharap saja.
Aku lupa kapan terakhir mereka berpegangan tangan, aku lupa kapan terakhir mereka bercengkrama bersama, aku lupa kapan terakhir kita berkumpul bersama. Tapi yang aku tahu, mereka pernah saling mencintai yang entah apakah rasa itu masih ada atau tidak.
Dalam keadaan apapun, harapanku hanyalah selalu bisa tersenyum walau hanya senyum palsu.
Aku tetaplah diriku, adik dari kakak laki-laki yang telah berkeluarga, sama sepertiku. Sering sekali kulihat Kakak-ku memperlihatkan keceriaan-nya di depanku. Bisaku tebak keceriaan itu palsu sepertiku.
Ketika saatku ditemani hujan. Terkadang Dunia aku anggap tidak adil, apa salahku? mengapa harus aku yang mengalami hal pahit ini? Kedua orang tuaku masih hidup, tapi mengapa aku sama sekali tidak bisa merasakan kasih sayang orang tua di usia remaja sama seperti teman-temanku rasakan itu.
Pertanyaan yang selalu ku tanyakan pada air mata dan air hujan saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar