Minggu, 28 Desember 2014

Merindu lagi.

Malam ini. Dibalik luka, kubaringkan diriku di sofa tua berwarna kuning pudar, berada di teras rumahku. Hampir setiap malam kulakukan seperti ini, walau pun tak ada cahaya, tak ada bintang tapi tetap ada bulan yang setia menemaniku malam ini.

Di depan gerbang rumah, aku lihat anak perempuan seumuranku berjalan bersama mamanya dan kulihat juga tangan anak itu merangkul di pundak mamanya, mereka berdiam depan gerbang rumahku, terdengar di telinga anak itu sedang bercerita tentang kisahnya dengan mamanya begitu indah. Tak lama kemudian ada seorang pria dewasa mirip dengan anak itu datang menemuinya, benar saja itu ayahnya. Langsung ia peluk kencang ayahnya, padahal hanya baru pulang kerja saja dari pagi.

Aku melihatnya dengan serius, tanpa terasa air mata turun perlahan. Entah, berapa puluh liter air mata yang sudah ku keluarkan setiap aku melihat seperti itu, setiap aku merindu mengingat mereka.
Mama, Papa.

Aku rindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar