Terdengar denyut nadi yang tak lagi berirama, menandakan kepergianmu dan mendatangkan derita sejak dua minggu lalu. Sungguh pilu, kamu pergi begitu saja, melupakan perjuanganku dulu saat mendapatkanmu. Aku terlihat begitu hampa dalam keadaan ini, terasa sepi, teramat tak berarti, teruntuk kamu yang memberi pahitnya patah hati.
Selalu saja aku terbayangan kala kau memberi senyuman yang membuat rasa cinta padamu semakin dalam. Kepergiaanmu dua minggu lalu sungguh sulit terfikir oleh logika, begitu saja, membuat kecewa pada hati yang ditaburi banyak luka. Bahkan sempat terfikir olehku dulu untuk memilikimu dengan jangka waktu yang lama, namun apa, hanya satu bulan waktu yang diberimu untuk mencintaiku.
Satu bulan waktunya. Waktu bahagiaku denganmu saat denyut nadi begitu harmoni dengan irama penuh melodi. Padahal aku selalu bermimpi ingin memelukmu lebih lama, lebih dari yang orang-orang kira, tapi kau yang telah menhancurkan mimpiku dengan kejamnya kata perpisahan.
Sejak satu minggu lalu kau meninggalkanku selalu ku taruh tengah malam untuk merindu padamu, untuk mengingatmu walau selalu keluar desak tangis dari wajah pria yang dulu kau cintai.
Mengertilah, tak secepat itu cinta berpindah, untuk saat ini mungkin hanya dirimu yang akan selalu mengisi hatiku. Jikalau aku telah menghilangkanmu dari hati, aku pun masih harus bergelut dengan perasaan tentang siapa pendamping dirimu nanti.
Aku ingin memilikimu. Aku. Ingin. Memiliku. Kata-kata yang hanya terlintas dari ujung bibir saat dulu aku menyatakan cinta padamu, dengan tangan menyodorkan bunga mawar. Kau hanya mengangguk ditambah senyuman manis, menandakan aku diterima untuk memiliku. Hari itu sungguh selalu teringat dan ingin ku ulang ratusan kali. Engkau, rasanya tak pernah merasakan rasanya begitu bahagianya saat kau mampu menerima pria yang nyaris tak memiliki apapun ini.
Rembulan pun menertawakan perjuanganku saat mendapatkanmu dulu, sungguh membuatku malu akan hal-hal bodoh yang telah berlalu.
Terlitas dipikiranku tentangmu akankah kau menyadari siapa pria yang paling mencintaimu. Jika itu bukan aku, akankah dia bisa memperjuangkan dirimu seperti diriku ini?
Aku. Masih. Mencintaimu.
wahahahaha, jadi inget masa-masa susah move on dulu :")
BalasHapusHahaha, terimakasih sudah mampir ke blog ini :)
Hapus