Di siang bolong ini, aku seperti melihat bintang disitu, iya diarah rekah senyum manismu. Sungguh menderang seperti bintang nan indah dilangit. Tanpa kusadari aku sedang melamun sambil melihat senyummu itu, mungkin sekitar jarak 30 meter aku memandang bintang itu, kamu.
Di siang bolong ini, lagi-lagi aku seperti melihat bulan yang sangat bercahaya di matamu, mata indahmu. Matamu bercahaya seperti bulan, yang menerangiku, menerangi hatiku saat ini.
"Udah samperin tuh." Cetus temanku, yang membangunkan lamunanku.
Aku hanya diam, diam dengan penuh makna.
Sebenarnya ini bulan apa? Panas sekali, padahal kemarin sore hujan deras.
Pertanyaan yang sama untuk situasiku saat ini.
Sebenarnya ini siang atau malam? Matahari makin membakar kulitku. Tapi, mengapa walau panas seperti ini aku malah melihat bintang dan bulan di wajahmu.
Ah sial, temanku yang satu ini semakin memaksaku untuk menemuinya, menemui sumber bintang dan bulan itu. Aku mau, tapi malu. Mengapa? Tak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.
Aku merasakannya, matahari ini sepertinya sudah tidak membakarku lagi. Tapi malah sekarang semilir angin yang datang dan pergi, bergantian menerobos kulitku. Aku semakin bingung dengan musim apa sekarang. Tapi sungguh, aku tak ingin seperti angin, yang hanya datang lalu pergi sesukanya.
Sedikit demi sedikit kuberanikan diri untuk berjalan menemuimu. Baru sedikit langkah kulihat dirimu tersenyum kecil, tapi wajahnya bukan ke arahku. Tanpa rasa sadar aku pun tersenyum ke arahmu. Semoga kau melihat. Ternyata kamu mendongkak ke arahku, aku malu. Sepertinya kamu sudah menunggu ke hadiran diriku.
Dari dekat wajahmu sungguh terlihat begitu manis siang itu.
Ohaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar