Semilir angin malam masuk ke dalam pori-pori kulitku, sangat dingin terasa. Dingin sekali, meski tubuhku di balut selimut masih saja terasa dingin.
Sudah pukul 03:00 rupanya.
Sempat mengantuk saat tadi, tapi entah rasa kantuk itu menghilang saat aku mengingat wajahmu, senyummu, keceriaanmu. Terkumpul dalam satu tempat, dipikiranku. Lalu pindah ke hati. Di malam ini, di tengah dingin ini sama sekali aku tak ingin jauh darimu, sekalipun dalam mimpi.
Mengingat dirimu, mungkin kamu sudah terlelap dalam mimpi. Perasaanku takbisa bohong hanya kamu yang ada dihatiku saat ini, meskipun banyak yang menawarkan cinta.
Mataku semakin kuat menahan rasa kantuk, bayanganmu itu terasa indah. Tapi angin ini semakin gila menyerangku terasa semakin dalam memasuki tubuhku. Seperti kamu yang tiap harinya semakin gila membuatku selalu ingin memandangmu dan kaupun semakin hari terasa semakin dalam membuat perasaanku untuk terus mencintaimu.
Tak ada yang bisa salahkan cinta, jika telah membuai hati hingga lupa dunia, hingga aku lupa norma-norma. Saat kau selalu terbenak dalam hati dan pikiranku. Cinta kadang suka sebercanda itu.
Rupanya angin sudah lelah menyerangku tak terasa dingin lagi. Tapi sekarang kepalaku terasa sangat pusing, terasa ingin muntah, tapi tak bisa ku muntahkan. Aku hanya coba untuk memuntahkan semua hal buruk tentangmu, tentangku dan tentang kita.
Aku hanya masuk angin saja sepertinya, mungkin jika ditidurkan akan baik kembali. Tapi entah, seakan kamu lah yang menahan mataku ini untuk tidur.
Percayalah, kasih. Aku tak ingin kau pergi, aku tak ingin menanam benih air mata pada ladang hatiku. Yang ketika tumbuh banyak yang memetiknya.
Aku ingin berada di hatimu sendirian, berada di pikiranmu sendirian dan aku ingin berada di mimpi indahmu, bersamamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar